Fesyen yang Ber-Etika

Ketika mendengar kata etika (etik) tentu kita akan seketika menyandingkannya dengan hal yang baik dan benar. Sesuatu tersebut kemudian dihukumi apakah etik atau tidak etik sesuai dengan norma yang berlaku secara universal.

Sejak zaman pra-sejarah hingga ke era pasca-modern, pakaian sudah menjadi kebutuhan primer umat manusia. Beragam tren turut mewarnai perjalanan historis dunia fesyen yang kini menjelma menjadi industri yang super besar.

Pada kesempatan ini, kami mencoba mengulas dari sisi lingkungan yang mana menjadi fokus aktivitas kami yang tergabung di organisasi Greeneration Indonesia. Industri fesyen bukan tanpa efek positif, kita tahu oleh industri ini faktor ekonomi terdistribusi secara luas. Penyerapan sumber daya manusia sebagai angkatan kerja juga cukup besar. Akan tetapi, menurut data dari Kementrian Perindustrian, industri fesyen merupakan pemasok emisi gas rumah kaca terbesar ketiga setelah semen dan logam-baja.  Tentu ini bukan sekadar data yang teronggok begitu saja. Harus ada pencermatan guna menindaklanjut kondisi yang berefek buruk bagi lingkungan tersebut.

Terdapat paradoks pada industri ini di mana banyak orang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk berburu tren fesyen terbaru, sementara di sisi lain ada orang yang rela dibayar murah untuk membuat sebuah produk yang mendukung tren fesyen tersebut. Tentunya ini merupakan realita yang umum terjadi pada sebuah industri skala besar. Di samping itu, banyak efek yang tercipta, mulai dari isu sosial, ekonomi, hingga lingkungan.

Sejak kemunculan era publikasi, percepatan penyebaran informasi kemudian melahirkan juga istilah Fast fashion, yakni sebuah proses yang membawa tren fesyen terbaru yang menyebar ke seluruh gerai di dunia dengan cepat. Proses ini tentunya sangat baik karena menggunakan model bisnis yang efektif dan efisien. Akses untuk mendapatkan produk-produk dari tren fesyen terkini menjadi sangat mudah, apalagi di era digital seperti sekarang ini, tinggal ‘klik’ produk pakaian terbaru bisa sampai di depan rumah.

Fast fashion tentunya bukan tanpa celah negatif, karena ‘dosa’ dari industri ini ialah terletak pada sektor perburuhan serta kerusakan lingkungan, seperti yang diungkapkan pada paragraf awal. Guna mendukung terciptanya tren fesyen dengan cepat, industri ini memanfaatkan bahan baku berbasis kimia yang tidak terkelola dengan maksimal. Indikasi sederhananya ialah, predikat sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia di mana di sepanjang bantarannya terdapat banyak pabrik tekstil baik skala kecil, sedang, hingga besar. Dalam hasil investigasi dari Greenpeace Internasional pada tahun 2012 juga mengungkapkan bahwa limbah industri pakaian sebagai penyebab kerusakan ekologis dari sumber mata air yang mengaliri pulau Jawa. Efek kerusakan ekologi yang ditimbulkan tidak sebanding dengan pola konsumsi-pakai-buang yang siklusnya terlalu cepat dan ini baru di Indonesia belum lagi yang terjadi di negara lain. Proses normalisasi kerusakan tersebut akan memakan waktu yang panjang, sedangkan produk pakaian yang kita kenakan paling lama hanya bertahan satu tahun, itupun akan tersimpan dalam lemari bila dalam empat bulan berikutnya terjadi perubahan tren fesyen, apalagi kita merupakan seorang fashion addict.

Fesyen yang Etis

Sebagai antidot terhadap percepatan industri fesyen, muncul beberapa konsep baru yang menawarkan sebuah solusi tanpa mengurangi esensi fesyen sebagai produk primer. Di Indonesia kita tahu terdapat berbagai macam teknik tekstil tradisional. Pembuatan kain secara manual hingga pewarnaan menggunakan bahan alami menjadi ciri khas dunia tekstil tanah air sejak lama. Namun arus itu kemudian berubah seiring dengan terbukanya keran investasi luar ke dalam negeri, khususnya pembangunan pabrik-pabrik pakaian sebagai penyuplai sejumlah merk pakaian tenar. Tekstil tradisional perlahan tergerus hingga akhirnya hanya jadi bahan studi bagi pelaku peneliti sejarah saja, ironis.

Pada konsep Slow fashion, kualitas menjadi yang utama di atas kuantitas. Konsep ini digagas oleh sejumlah desainer serta label pakaian yang kemudian menyusul dengan konsep eco dan ethical fashion. Secara umum, tujuan dari konsep-konsep tersebut ialah siklus ekonomi yang adil serta turut menjaga kelestarian lingkungan.

Pada sebuah survei di Inggris yang digagas oleh YouGov Poll menyatakan bahwa 74% dari responden rela membayar ekstra sebesar 5% jika mereka tahu bahwa buruh yang membuat pakaian tersebut bekerja dengan layak. Hasil ini cukup menggembirakan mengingat konsep slow fashion akan menjadi populer tergantung dari mekanisme pasar selayaknya industri fast fashion yang kian digandrungi.

Geeneration Indonesia sendiri memiliki produk bermerk baGoes yang mana produk tersebut ialah tas pakai ulang yang utamanya ditujukan sebagai solusi pengganti kantong plastik. Meski belum menggunakan kain hasil daur ulang –perlu kajian lanjutan terkait biaya produksi- baGoes justru menerapkan konsep harga produksi yang adil serta anjuran agar produk tersebut tidak buru-buru berakhir di tong sampah. Slogan 1000 kali pemakaian, return me, serta lifetime warranty adalah layanan yang diterapkan oleh merk tas pakai ulang pertama di Indonesia ini. Selain itu, baGoes juga menerapkan konsep upcycle bagi limbah kain hasil produksi untuk menjadi suatu produk menuju strategi zero waste production.

Slow fashion tentunya sangat menarik serta solutif guna menjawab efek negatif dari industri fesyen. Namun, yang perlu diperhatikan ialah tidak sekadar menjaga komitmen dalam menciptakan lingkungan kerja yang layak serta pelestarian terhadap lingkungan, tapi juga nilai estetika yang memberikan nilai tambah akan keindahan dari sebuah produk. Tentunya hal tersebut bisa menjadi alternatif pilihan bagi konsumen untuk mulai mempraktikan pola konsumsi yang sustainable.